JAKARTA, PCplus – Makin banyak perangkat terkoneksi ke internet di masa sekarang dan masa-masa mendatang. Samsung misalnya sudah merilis jam tangan Samsung Gear yang terkoneksi ke Internet. Selain itu ada alat pelacak kebugaran Jawbone Up 24 yang bisa menerima e-mail.
Ya, Internet of Things (IoT) memang makin populer di seluruh dunia. Tidak cuma perangkat pintar yang akan terkoneksi ke Internet, tapi bisa juga orang (misalnya yang jantungnya ditanami alat pemantau) dan bahkan ternak (yang ditanami biochip transponder). Mobil pun sudah memiliki sensor yang bisa memberitahu pengemudi ketika tekanan ban sudah rendah. Idenya, apa pun (ciptaan alam maupun buatan manusia) bisa diberi alamat IP dan dimampukan untuk mentransfer data via jaringan. Cuma sementara ini IoT masih sangat terkait dengan komunikasi mesin-ke-mesin di sektor manufaktur dan pembangkit tenaga, serta pertambangan dan gas.
Menurut Gartner, pada tahun 2009 sudah ada 900 juta perangkat terkoneksi yang dipakai di seluruh dunia. Ini tidak termasuk smartphone, PC dan tablet. Jumlah ini diprediksikan akan meningkat sampai 26 miliar pada tahun 2020.
Namun meningkat IoT juga membawa resiko. Para peretas akan mencoba menyusupi sistem IoT. Karena jutaan perangkat akan terkoneksi ke Internet pada tahun ini, IoT diprediksi akan menjadi Internet of Vulnerabilities. Perangkat cerdas seperti smart TV, peralatan medis dan kamera keamanan bahkan sudah mengalami serangan. Alat pemantau bayi (baby monitor) juga tak luput dari serangan. Para peretas telah mengakses sistem komputer melalui sistem kamera keamanan sehingga trafik dinonaktifkan.
“Sistem-sistem ini tidak hanya rentan terhadap serangan, tapi juga tidak memiliki metode peringatan untuk konsumer dan bisnis saat kerentanan ditemukan. Lebih buruk lagi, mereka tidak memiliki metode yang mudah digunakan untuk melakukan patch terhadap kerentanan-kerentanan tersebut. Karena itulah kita akan melihat ancaman dalam bentuk yang tidak pernah dilihat sebelumnya,” tulis Darric Hor (Country Director for Indonesia, Symantec Corporation) dalam rilis persnya.
Hor mengatakan, maraknya perangkat pintar mobile akan membuat lanskap keamanan online makin rumit. Apalagi jika perusahaan belum membuat peraturan ketat mengenai penggunaan perangkat bergerak pribadi atau aset komputasi perusahaan.